Blog ini, didedikasikan untuk merawat sejarah Ngliparkidul, namun dengan tetap memandang ke depan. Agar generasi Ngliparkidul memiliki masa depan yang lebih cerah dan terarah, namun tak tercerabut dari sejarah yang telah membentuknya.

ccc
  • This is default featured slide 1 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

  • This is default featured slide 2 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

Karang Taruna Bagus Panuntun: menebar virus kebaikan

".....berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia” (Soekarno)


Satu per satu pemuda dan pemudi itu memasuki balai dusun. Berjalan beriringan, dengan penampilan yang beragam. Ada yang memakai baju berkerah, atau kaos dipadu celana dan sandal jepit. Ada yang memakai jaket untuk melawan dinginnya malam. Gelak tawa, dan candaan tidak ketinggalan selalu mengikuti.

Setiap orang terlihat menenteng plastik. Mereka langsung menuju meja bendahara untuk laporan dan menyerahkan iuran rutin. Malam itu, malam minggu akhir bulan. Seperti adat kebiasaan yang sudah disepakati, dilangsungkan acara rapat rutin Karang Taruna (KT) Bagus Panuntun dusun Ngliparkidul.

Seperti umumnya karang taruna, ada kegiatan arisan sebagai alat mengikat para anggotanya. Namun, ada yang beda dengan Bagus Panuntun. Plastik yang ditenteng tadi ternyata berisi beras.

Bukan! Ini bukan zakat fitrah, karena toh lebaran masih hitungan bulan lagi.

***

Sudah beberapa bulan disepakati adanya kegiatan sedekah beras oleh para pemuda. “Karang Taruna bersedekah beras”, demikian tema yang diusung, terang Farhan, sang ketua. Kenapa dipilih beras? Bukan uang, misalnya. “Karena beras lebih berharga, mas,” ungkapnya. Ungkapan alasan yang apa adanya.

Beras memang menjadi bahan kebutuhan pokok. Dia bagian dari 9 bahan pokok, yang sehari-hari harus dipenuhi sebagaimana umumnya orang, untuk kebutuhan makan untuk semua orang. Mampu maupun tidak mampu. Demikian pula program Bagus Panuntun ini. “Sasarannya bagi warga yang benar-benar kurang mampu,” lanjut Farhan.

Beras terkumpul

Apa yang dilakukan pemuda dalam bingkai organisasi Karang Taruna Bagus Panuntun ini, sudah selayaknya diapresiasi. Pemuda, merupakan proses tumbuh yang ada pada puncak produktifitasnya. Sebelum nanti tua, dan tiada.

Maka, ketika menjadi pemuda itulah, kita harus mengoptimalkan potensi untuk ikut melakukan perbaikan atau memberikan solusi atas permasalahan di sekitar. Karang Taruna Bagus Panuntun mampu melakukan analisis sosial di sekitarnya. Melihat bahwa masih ada orang yang tidak seberuntung dirinya, dan perlu uluran tangan berwujud empati dan bantuan. Para pemuda inipun kemudian ikut berperan.

Peran yang seperti inilah, yang akhirnya mampu menegaskan dan meneguhkan citra positif pemuda, serta menghilangkan citra negatif yang mungkin masih ada.

Menyerahkan bantuan

“Alhamdulillah tiap akhr pekan beras makin banyak, mas,” ujar Farhan. Agaknya, sambutan positif pun mulai mengalir. Tentu saja, semangat kebaikan ini semoga juga merembet kepada organisasi karang taruna lainnya.

Selain itu, semoga juga semakin banyak lagi ide-ide kreatif dan solutif dari pemuda, dimulai untuk lingkungan kecil di sekitarnya. Jika semua karang taruna menebarkan virus kebaikan, niscaya Indonesia juga akan menuai hasilnya.


Anggota KT BP

***

Bonus demografi Indonesia, kuncinya ada pada para pemuda. Jika pemuda mampu memainkan perannya, maka bonus demografi akan bermanfaat. Namun jika pemuda tidak memainkan perannya, maka bonus demografi hanya akan menjadi boomerang saja.


Share:

Panen pari, Lur…

Eee bo senenge..
Konco tani, yen nyawang tandurane…
Demikian penggalan kalimat langgam Konco Tani yang sangat populer. Menggambarkan betapa senangnya para petani melihat tanaman di sawah ladang sudah menguning tanda siap dipanen. Petani merupakan soko guru untuk negaranya. Dia menopang kebutuhan makan yang menjadi hajat hidup semua orang. Dia akan disebut, dan menjadi lantaran hidup banyak orang. Doa-doa dipanjatkan menjelang makan, atas rejeki yang timbul dari keringat petani.

Demikian juga para petani di Ngliparkidul. Saat ini sudah musim panen, mbabat pari. Semua petani guyub rukun bebarengan ke sawah ladang. Menuju sawah ladang masing-masing, membawa bekal seperlunya untuk sekedar mengisi perut di siang hari. Tremos air panas, teh tjap padi, gula pasir atau kadang bongkahan gula jawa, beberapa macam jajan pasar. Atau jika tidak sempat ke pasar, ada gethuk atau puli buatan sendiri.

Serta tentu saja sebilah sabit yang sudah diasah tajam untuk mbabat pari, beberapa utas tali dari iratan bambu.

Terkadang mereka ke sawah ladang secara bersama dalam kelompok secara bergantian. Organisasi kelompok tani menjadi wadah para petani saling membantu secara bergiliran.
Hari ini di sawah kang Suto, besok Kang Noyo. Lusa ke Mbok Ginuk dan seterusnya. Rasa gotong royong, dan seprofesi lah yang mendorong mereka melakukan itu. Mereka, adalah penerus profesi tani, profesi tua di jagad ini.

***


Sesampainya di tujuan, semua mencari posisinya masing-masing. Sabit mulai diayunkan, memotong batang padi. Sambil memotong, mereka ngobrol berbagai macam cerita. Tentang apapun. Mulai dari yang serius sampai guyonan garing, namun tetap membuat tertawa. Obrolan politik pun dibawa dengan suasana goyon khas desa.


“Siapapun yang jadi, kita tetap kudu mbabat pari, Kang,” seloroh Suto.
“Yo, jelas. Nek wis dadi opo njuk gelem melu mbabat pari. Paling ya mung mangan parine,” Noyo menimpali.

Udara pagi yang segar, suara burung yang mencicit dan berterbangan menjadi saksi guyub rukun mereka. Tak perlu lama, dengan sekian banyak tenaga, cepat selesai pula proses mbabat pari itu.

Batang padi yang bertumpuk itu kemudian dibongkok, dibawa pulang menggunakan truk bak terbuka. Konco tani ada yang pulang menumpang truk, ada yang naik motor, ada pula yang konsisten berjalan kaki. Memang ada rasa Lelah, pasti ada.


Namun, sesampainya di rumah, rasa Lelah itu terbayarkan dengan bertemu keluarga, wedangan bersama. Atau bertemu hewan peliharaan yang menunggu jatah makan sore dari sawah ladang. Para petani ini terkadang nempil batang padi atau dedaunan di sekitar ladang untuk pakan sapi.


Suara sapi, wedhus, dan senyum petani itu membangkitkan semangat. Mereka begitu tegar dan mantap menatap esok hari, lewat harapan yang tersimpan pada setiap buliran padi, tangkai ketela, atau tersimpan pada setiap suara sapi dan wedhus di sore hari. 

Parine lemu-lemu
polowijo lan uga sak wernane
katon subur, kabeh tuwuh
kang sarwo kinandur

Panyuwunku tinebehno saking sambikolo
sih ing gusti mugi-mugi lestari widodo

sayuk rukun rame-rame
gotong-royong kang dadi semboyane

konco tani saka guru tumerap negarane

Share:

Karang taruna wadah berorganisasi, dan mengembangkan diri.

Karang taruna merupakan nama organisasi desa/dusun yang mewadahi para pemuda. Di organisasi ini pemuda menempa kemampuan organisasinya dengan mengadakan kegiatan, atau mengelola sumberdaya. Interaksi antar anggota membuat Karang taruna semakin dinamis. Terkadang ada sinergi, terkadang ada konflik yang harus diselesaikan.

Karang taruna, bisa digunakan untuk bersama-sama melihat realitas sekitar, kemudian bersama pula menyiapkan kualitas diri untuk menyikapi. 

Demikian pula di Ngliparkidul. Bagus Panuntun (BP), itulah nama beken karang taruna di dusun ini. Penulis belum tahu sejak kapan KT di dusun ini berdiri. Tentunya perlu dilakukan telisik data untuk bisa menjaga riwayat keorganisasiannya.

***
Tanggal 26 Januari lalu, KT BP mengadakan kegiatan pertemuan rutin bulanan. Kegiatan ini dilakukan malam minggu pada pekan ke empat. Acaranya arisan + anggota diminta membawa beras seikhlasnya. Beras yang terkumpul dibagikan pada warga yang membutuhkan.  Hal ini merupakan kegiatan positif yang usahanya perlu dihargai, di kawal agar selalu sesuai dengan tujuan.


Pada malam itu, selain kegiatan rutin, terdapat diskusi tematik dengan tema “Mengenal gerakan dakwah dalam Islam”, dengan pemantik Ust. Ikhsan Pujianto, S.Sos. dari Jogjakarta serta moderator Purwoko.

Ust. Ikhsan  menyampaikan bahwa ada banyak gerakan dakwah dalam Islam. Malam itu dibahas 4: Muhammadiyah, NU, Jamaah Tabligh, dan Salafy. Muara 4 gerakan/organisasi ini sama: mendakwahkan Islam. Namun latar belakangnya menjadikan caranya berbeda.


Sebagai generasi muda, anggota KT BP harus memahami 4  gerakan ini, agar jika bertemu salah satu diantaranya bisa bersikap dengan tepat dan tidak kontra produktif. Apa perbedaan yang harus diketahui, dan bagaimana menyikapi perbedaan itu. Kemudian tidak secara serampangan menyalahkan satu dan lainnya. Selalu ada nilai positif yang bisa diambil dari semua gerakan dakwah Islam tersebut.

“Kebahagiaan itu rasakan, sedangkan kebenaran itu dicari,” demikian salah satu yang digaris bawahi  pada pertemuan itu. Gerakan dakwah Islam merupakan cara masing-masing orang mencari kebenaran, karena memang demikianlah proses manusia hidup.

Farhan, ketua KT BP berharap para senior tidak segan menegur jika pemuda atau karang taruna melakukan keleliruan. "Nek kulo kleru langsung mawon jenengan koreksi kulo. Biar bisa mengarahkan kita menjad orang yang lebih baik," tegasnya.
Share:

Uler jedung: enaknya melebihi hamburger

ulet jedung dan kepompongnya
Gunungkidul memang terkenal dengan ulernya. Uler, ulat. Bukan ular. Macam-macam uler yang muncul berdasar musim, menjadi lauk gurih nan ngangeni

Setelah sebelumnya uler jati, kini, sekarang saat artikel ini ditulis, sedang in alias ngehit uler jedung. Uler jenis ini hidup di daun mahoni. Warnanya hijau, sama seperti warna daun mahoni. Bentuknya besar, sebesar ibu jari orang dewasa. Memiliki semacam antena di sekujur tubuhnya. Jika di pegang, empuk ginuk-ginukTerbayang, di dalamnya ndaging dan bergizi kaya protein.  #ger

Ketika kecil, Saya hobi ngingu (menernak) uler ini. Caranya sederhana. Cukup dengan perjanjian dengan teman-teman ketika menemukan uler jedung, tidak tertulis. "Ini nggonaku", selesai. Setelah itu, dibiarkan saja sampai ngungkrung.

Mencari uler  bisa berkeliling kampung seharian. Kepala mendongak ke atas, mata mendelik ke daun mahoni. Karena warna uler dan daunnya sama, butuh pandangan mata kualitas prima. Kami harus bersyukur, karena inilah, mata kami terlatih. 

Kepompong yang masih ada dalam rumahnya
Kalau misal menemukannya jauh dari rumah, makan uler ini diboyong pulang. Di tempatkan di pohon mahoni dekat rumah. Tentu saja agar mudah pengawasannya. Kalau ditemukan sudah sudah tua, muara akhirnya ke wajan. Digoreng. Ya, digoreng untuk lauk. Atau dengan bersabar sedikit bisa dapat ungkrungnya. Ungkrung lebih lezat dari yang masih berbentuk uler. Ungkrung uler jedung bersembunyi dalam bungkusan yang dibuat dengan air liurnya. Rumah ini sangat kuat. Tidak bisa begitu saja disobek. Si kepompong akan tidur di dalamnya. (Purwoko)


menyusuri sawah

Perjuangan mencari uler jedung



dipilihi


rumah yang sudah robek


ke wajan juga akhirnya

Sumber foto: WAG Ngliparkidul dan Dinmas Peghoek
Share:

Wayahe mbakar karo nggodog jagung

Jagunge gembodog
Ini musim hujan.  Hujan sudah berlangsung beberapa kali, dan semoga tidak ada hujan besar seperti tahun lalu yang membawa bajir terbesar di Gunungkidul. Tanaman palawija sudah mulai menunjukkan pertumbuhannya. Bahkan ada yang sudah memperlihatkan buahnya. Memang belum panen, namun lihatlah apa yang ada di sawah ladang. Jagung misalnya.

Di Ngliparkidul, warga sudah bisa mulai menikmati tanaman jagungnya. Buahnya, yang belum tua, masih setengah tua, justru menjadi favorit. Sedang gemarit, katanya. Entah apa artinya gemarit. Mungkin “sedang bagus-bagusnya dirit”. Rit, ngarit, atau mencari pakan untuk ternak. Pada masa ini pohon jagung dalam keadaan empuk jika dijadikan pakan sapi. 

Sementara buah jagungnya sedang pas-pasnya untuk dibakar atau direbus. Lebij joss lagi, mbakar jagung tepat ketika hujan deras, di depan pawon yang berbahan bakar kayu. Api yang sedang dipakai untuk masak, akan menghangatkan badan dari dinginnya hujan. Jagung bakar akan menjadi pelengkapnya. 

Mbakar jagung juga biasa dilakukan di malam hari, ketika ronda atau jagongan bareng tetangga. Membuat perapian kecil di depan rumah, berbahan bakar ranting kayu. Hangatnya api, akan mengusir dingin. Jagung bakar akan mengusir lapan. Dan jagongan ngalor ngidul akan mengusir kepenatan setelah seharian tilik sawah.

parine wis meh mrekatak
Biasanya, ditemani oleh teh panas, yang dituang dari teko porselen putih, polos tanpa hiasan. Teko peninggalan mbah buyut, yang entah kapan dan siapa yang membeli. Teko yang masih awet hingga sekarang, sampai keanak cucu, bahkan ke buyut atau canggahnya. Teko yang rusaknya hanya jika terjatuh dan pecah.


**** 
Makan jagung bakar, harus digigit langsung. Hitam karena gosong, atau arang yang masih menempel justru menambah nikmatnya jagung bakar. Masih ingat kopi joss yang ditambahi arang? seperti itulah analoginya. 

Tidak jarang, bahkan sering atau wajib, akan tampak noda hitam di bibir atau mulut. Ya, itu karena gosong atau areng yang masih menempel di jagung.

Ger..

*******

Selain dibakar, jagung muda juga pas jika direbus. Tentu saja, direbus dengan perapian kayu, atau rencek hasil buruan di kebonan. 

Jagung godog, isih kemebul
Merebus jagung ada dua cara. Pertama tanpa dikupas. Cara ini membutuhkan waktu lebih lama. Dan tentu saja bahan bakar perapian juga kudu cukup. Kedua dengan cara dikupas lebih dahulu. Cara kedua ini biasanya untuk jagung yang sudah agak tua. Merebusnya harus semalaman suntuk. Setiap jam harus dicek apinya, jangan sampai mati.

Jika sudah empuk, apinya bisa dikurangi, cukup dengan kayu yang merah menganga saja.


Sumber gambar: wa grup Ngliparkidul

Share:

Puthul dan ungkrung jati: berkah, gizi, lan rejeki kanggone warga Ngliparkidul

Menjelang musim hujan, meski belum begitu sering, ada harapan baru bagi warga Ngliparkidul. Mereka akan menikmati makan pagi, siang, sore dan malam mereka dengan lauk yang tidak setiap hari ada. Ya, lauk puthul dan ungkrung atau ulat jati.

———

Sore itu, menjelang Magrib, tampak Kang Dadhap bergegas menuju kebon di samping sungai. Sejurus kemudian dia khusyu’ di bawah pohon jati, mahoni, atau sambi. Tangannya begitu cekatan nyekel hewan kecil agak bulat yang menempel di daun atau di batang pohon. Menjelang sore tadi,  gerimis turun. Air gerimis   membuat hewan ini muncul menampakkan diri , menyerahkan diri untuk “ditangkap”. Itulah puthul, hewan kecil namun mberkahi, bergizi dan ngrejekeni bagi warga.

Bukan hanya puthul, musim hujan juga membawa rejeki lain untuk warga.

***

“Hoei, tangi-tangi. Ndang subuh, trus nang kali”, simbok tua (nenek) membangunkan saya. Saya pun segera cuci muka, wudhu dan menunaikan Subuh. Kemudian bergegas mengambil botol bekas air mineral yang sudah saya siapkan sejak sore sebelum tidur, mengikuti langkah simbok tua. Kami menuju ke sungai.

Pagi itu, sudah banyak orang berkumpul di sungai samping timur rumah. Hampir semuanya mendongak ke atas, tepat di bawah rerimbunan pohon jati. Ada yang membawa plastik,  trempolong, botol kosong air mineral, dan semacamnya. Mereka menanti ulat jati yang sudah berumur, turun dari daun jati. Tampak di samar ulat jati turun menggunakan liurnya, persis seperti pemanjat tebing terjun bebas menggunakan alat pengaman. Mak tlereng…… Ulat ini langsung masuk di wadah yang mereka bawa.


Di dalam wadah itu ulat berkumpul. Warna mereka hitam, kadang ada yang bloreng di atasnya. Bagi yang tak biasa, tentu akan menakutkan. Ulat itu bergulat dalam wadah, tapi sia-sia saja, ulat-ulat itu tak bisa keluar. Setelah ulat masuk, kemudian wadah ditutup rapat. Ulat itu mendapat kesempatan keluar ketika wadah dibuka untuk nadahi ulat yang baru turun. Saya pun harus menghalau ulat itu masuk wadah kembali.

Setelah matahari menampakkan diri, saya diajak pulang. Saya harus segera mandi dan sekolah. Ulat hasil buruan saya berikan ke mamak, untuk dimasak. Siang nanti, sepulang sekolah saya akan makan siang lawuh ulat goreng. Atau mungkin sayur lombok ijo campur ungkrung (kepompong ulat jati).

###

Lain waktu, ketika hari menjelang siang, atau sore hari, ada pemandangan menarik yang tidak biasanya. Warga tampak duduk khusyu’ di kebon,  di bawah pohon jati. Siang itu tampak jelas, pohon jati yang di pagi buta didatangi warga, ternyata sudah tak punya daun lagi. Habis. Daun itu dimakan ulat, dan ulat itu sekarang diburu warga.

“Oleh urung, Kang?”, tanya Suto pada Noyo. Tampak, Noyo memainkan gagang kayu kecil, sepanjang 20cm. Mengorek tanah, daun, atau bebatuan. Terkadang senyum tersungging di bibir Noyo. Tangannya cekatan merobek daun dan mengambil ungkrung yang menempel. Atau terkadang masih berbentuk ulat, belum sepurna menjadi ungkrung. Tampak pada plastik yang dia pegang, sudah terisi lebih dari setengah. Campur antara ulat dan ungkrung.

“Ini oleh setengah plastik, Kang. Lumayan iso digoreng karo dinggo campuran jangan lombok”. Noyo memperoleh setengah plastik, dia akan berikan pada istrinya untuk digoreng, atau dicampur sayur lombok ijo. Sebagai teman nasi thiwul, tentunya sangat nikmat. Apalagi, jika dibuntel, dibawa ke ladang untuk makan siang ketika istirahat nggarap sawah, menanam, atau matun.

“We, lha. Wis to sasak tho kene iki”, Suto bertanya. Tampaknya Suto harus mencari tempat lain. Tempat yang dia datangi sudah disikat habis oleh Noyo.

“Iyo, Kang. Wis tak wolak-walik mau. Lah sampeyan ora kerjo, po?. Jare nggarap neng nggone juragan kayu”, Noyo menjawab pertanyaan Suto sekaligus bertanya balik. Suto memang kesehariannya buruh bangunan. Dia buruh bangunan pilihan. Garapannya bagus, juga tertib. Jam 8 sudah mulai, jam 17 baru pulang. Dia tidak udud, sehingga mengurangi pengeluaran yang punya gawe. Banyak orang menggunakan tenaganya, bahkan rela antri jika Suto sedang ada garapan lain.

“Iyo, kang. Aku njaluk libur. Meh golek ungkrung. Jarene sekilo nganti 100 ewu je. Sopo reti iso nomboki le prei, tur iso dinggo lawuh”, Suto menjawab. Dia minta libur, cari ungkrung yang hanya setahun sekali. Harganya yang terkerek naik hingga ratusan ribu diharap bisa nambal liburnya, sekaligus untuk lauk keluarga.

####

Itulah fenomena musiman di Gunungkidul, Ngliparkidul khususnya. Puthul dan ulat jati akan berubah menjadi lauk yang luar biasa nikmat. Memasakknya bisa bermacam cara. Mulai dari cara konvensional di goreng, dicampur untuk sayur lombok ijo. Atau disambel kambil, bothok, atau dilinthing.

Bisa dipakai lauk, atau diganyang sebagai teman ngopi atau ngeteh. DI siang hari, sore, atau malam hari sambil nonton program ketoprak setiap malam selasa. Akan lebih seru jika ketoprak itu sayembara, dengan pemain terkenal macam Gito-Gati, Bambang Rabies atau mbok Beruk.

Puthul dan ulat jati, apalagi ungkrung ulat jati rasanya nikmat. Jika diminta  memberi permisalan, sangat sulit. Sulit sekali. Dia lebih nikmat dari daging sapi, bahkan direndhang sekalipun. Jauh lebih nikmat. Apalagi dengan bandingan hamburger, hot dog, donat. Jauh lebih gurih.


###

Kini, warga perantauan Nglipakidul yang ada dinegeri manca sangat merindukan “rasa” ulet atau ungker jati ini. Maklum, di kota tidak mungkin mendapatkannya. Kalau toh ada pohon jati, kemungkinan kecil dimakan ulat jati. Kalau toh dimakan, tentunya tak sampai hati, atau tepatnya malu jika harus munguti ulat kemudian dimasak. Apa kata orang nantinya.

Mereka rela pulang ketika musim puthul dan ulat jati. Ikut mencari sambil bercengkerama dengan warga lain, cerita tentang kota, pekerjaan, atau mungkin lowongan kerja. Siapa tahu ada sesama warga yang bisa ikut nunut, merantau ke kota.

[ selesai]

sumber foto: grup WAG Ngliparkidul
Share:

Miwiti tandur: saben dinane wong tani ing Ngliparkidul

E e ebo Senenge 
Konco Tani Yen Nyawang Tandurane 
Nyambut Gawe Awak Sayah 
Seneng Atine
(Konco Tani, Waljinah)

Akhir musim kemarau dihabiskan untuk menyebar rabuk, rabok, pupuk di tanah yang akan digarap. Dengan harapan tanah menjadi gembur, subur, dan siap ditanami.

Baca: (ng)rabok

Ketika musim hujan datang, maka cancut taliwondho, para kadang tani tumadhang ke sawah ladhang. Siap-siap nandhur. Diawali dengan maculi, ngoreki, agar tanah menjadi abyur, sehingga pupuk kandhang yang sebelumnya disebar tercampur sempurna dengan tanah. 

Dulu, proses ini dilakukan dengan mluku menggunakan hewan ternak. Pada umumnya sapi lanang dewasa yang kuat. Dari sapi ini pula sebenarnya pupuk didapatkan. Sapi -> pupuk -> sawah -> mluku -> sapi lagi. Proses mluku menggunakan  alat yang disebut luku yang ditarik sapi. Setelah tanah diluku, kemudian ditanami, atau disebari bibit padi. Untuk menutup bibit padi, dilakukan proses nggaru.

Nggaru mirip seperti mluku, menggunakan sapi. Namun alatnya yang berbeda.

Kini, di jaman modern, karena perkembangan jaman, owah gingsiring jaman, mluku dan nggaru dilakukan mesin. Modalnya mesin dan bahan bakarnya BBM, bukan lagi dedaunan untuk si sapi. Sapi pensiun.

mluku

Kegiatan bertani ini, dimusim hujan, dilakukan setiap hari. Maklum, para kadhang tani ini tidak sedikit yang memiliki sawah ladang di berbagai tempat. Pirang-pirang kedhok. Sehingga proses menanamnya harus antri. Umumnya di awal penghujan ditanami padi, kemudian periode berikutnya ada ketela, kedelai, kacang dan lainnya.

Mereka dan tanah, sudah seperti sedulur, kadhang sinarawedi, sahabat karib yang sulit dipisahkan. Mereka saling menjaga, memberi dan menerima.

ngorek'i

"Arep nang ndi, Yu..? tanya lek Paijem.
"Wur kacang neng kidul mbaon, Lek".

Demikianlah, percakapan mereka ketika berpapasan, atau melintas di depan rumah tetangga. Basa-basi yang tidak akan basi. Begitulah cara mereka membangun keakraban dan kemesraan. Mereka asyik, masyuk, dan mabuk dalam kegembiraan. Pesta tanam yang dilanggamkan dalam lagu Kanca Tani sebagaimana didendangkan oleh Waljinah.

###

"Sesok arep kelompok, Kang. Ora kuat pirang-pirang kedhok, gur tak garap karo bathih (besok mau saya undang kelompok untuk membantu,  saya tak kuat mengolah jika hanya berdua dengan istri)", seloroh Kang Kromo. Dia tinggal berdua dengan istrinya, yang keduanya sudah menginjak usia renta, senja. Kulitnya telah keriput, pada wajahnya terlihat kerutan yang menggambarkan usaha mbudidaya rejeki untuk keluarga. Sementara ada banyak ladang yang harus digarap. Anak-anak mereka sudah merantau semua ke kota, dan pulang satu kali setahun.

Kang Kromo tetap setia dengan tanah ladangnya, yang dari sanalah rejeki mengalir, termasuk untuk nyekolahke anak sampai berhasil dadi uwong. Meski akhirnya, setelah berhasil, anaknya merantau ke daerah lain, golek pangupo jiwo di kota. Meninggalkan Kang Kromo dan Mbok Kromo berdua saja di rumah. Kang dan Mbok Kromo tetap gembira. Paling tidak anak-anaknya sudah mau kirim kabar, kirim gambar cucu lewat whatsapp, syukur telepon atau video call.



Sumber foto: Dinmaz Peghoek
Video oleh Setyo Budi, diunggah oleh Purwoko

Share:

Trending

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Recent Posts