Blog ini, didedikasikan untuk merawat sejarah Ngliparkidul, namun dengan tetap memandang ke depan. Agar generasi Ngliparkidul memiliki masa depan yang lebih cerah dan terarah, namun tak tercerabut dari sejarah yang telah membentuknya.

ccc
  • This is default featured slide 1 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

  • This is default featured slide 2 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

Panen kacang menjelang kemarau

Kemarau menyapa. Tanah yang sebelumnya gembur, menjadi keras. Nelo. Hujan yang dinantikan tak kunjung datang. Padahal, di tegalan masih terhampar kacang yang belum dibedholi. Esok hari, kacang itu diharapkan bisa ditukar kiloan dengan selembar uang. Untuk sangu anak atau cucu berangkat sekolah.

Cancut taliwondo. Harus segera dipanen. Apapun risikonya...

Panas, terik matahari tak peduli. Dengan kudungan kain kusam, atau caping jowo mereka berjalan ke tegalan. Ada pula yang naik Onda modifikasi. Maklum, jauh jarak menuju tegalan itu. Apalagi jika pulangnya harus membawa sebongkok panenan kacang. Tentu berat. Onda sangat membantu mereka. Terkadang si suami naik Onda bersama sebongkok kacang, sementara si istri jalan kaki.

Demikianlah, tidak ada iri. Tidak ada kepenak dan ora kepenak. Semua ada porsinya masing-masing.

Begitulah keseharian warga Ngliparkidul yang tetap setia dengan tanah dan profesinya. Setia dengan siti, yang mewadahi tumbuhan untuk tumbuh dan menjadi lantaran kehidupan mereka, turun temurun.

###

Pagi itu, pada kesempatan pulang kampung, saya ingin merasakan (atau ekstrimnya membuktikan) kondisi di atas. Dengan sebuah gathul di tangan, serta alas kaki sendal ban, saya berjalan menyusuri jalan menuju tegalan. Jalan yang dulu kerap saya lalui. Namun pagi itu saya kaget. Jalan itu mati. Tak banyak orang melewati, sehingga semak belukar tumbuh mengganggu. Tilas tapak kaki pun hilang.

Sejak jalan ke tegalan dan hutan diperlebar dan perhalus, maka banyak orang menggunakan motor, tak lagi jalan kaki. Inilah yang menyebabkan matinya jalan setapak. Bahkan, ada sebuah jalan kebo alias lurung yang pada jaman kuno digunakan sebagai jalan ketika nuntun kebo, mati. Jalan itu berubah menjadi semak.

Tak sampai sepuluh menit, sampailah saya di tegalan. Jaraknya sekitar 300 meter dari rumah. Setelah mengingat dan memastikan tegalan warisan simbah, saya masuk. Kacang dan jagung tumbuh di tegalan.

Tampak tanah sudah nelo dan keras. Saya berusaha mencabut satu pohon kacang. Gagal. Kerasnya tanah, menahan biji kacang yang ada dalam tanah. Saya coba gunakan gathul.  Jika tak hati-hati,  justru biji kacang akan kena gathul, dan tertinggal atau pecah. Cuwil.

Ketiwasan. Gathul yang saya pakai lepas. Lecek. "Wah, gathule lecek'an kui, Mas". Sapa Lek Sumar yang sedang nyapu jalan. "Nggih, Lek".  Sayapun pulang. Mau ambil bendho atau gathul cadangan. Serta  bagor untuk wadah kacang, terutama yang sudah pithil.

Pagi itu, tak banyak yang saya peroleh. Tapi saya akan kembali lagi. Membawa bendho dan bagor.

###

Bendo dan bagor sudah saya bawa. Sesampainya di tegalan, kacang yang berhasil saya bedhol tadi saya wadahi. Kemudian saya lanjutkan mbedol kacang dibantu sebilah bendho. Lumayan, dapat tambahan. Meski akhirnya bendho itupun lecek juga. Ucul.

Saya menyerah. Saya putuskan untuk pulang. Sedapatnya.

"Nganggo banyu mas", demikian kata simbok tani lainnya. Memang demikian. Kadang, untuk mbedhol kacang di musim kemarau para petani harus menyewa disel, untuk nyedot air dari sungai. Air tersebut untuk membasahi tanah, agar kacang mudah dibedhol. Atau mereka berkorban nyelang air PDAM. Nyelang atau nyewa disel, tentunya butuh biaya.

Biaya ini akan mengurangi keuntungan mereka dalam memanen kacang.

Namun, itu tak jadi masalah untuk mereka. Kacang yang sudah tertanam, awoh harus diambil. Meski harus tuno. Jika tidak diambil, khawatir memolo. Kacang itu rejeki, nguripi. Menyia-nyiakannya tidaklah elok.

###

Sesampainya di rumah, ternyata ada tetangga berbaik hati. Mbah Suci, seorang simbah yang hidup sendirian di rumahnya, tepat di sebelah barat rumah kami. Seratus meteran jaraknya. Dia membantu mitili kacang tersebut satu persatu, sampai selesai.

###

Bapak datang dari masjid. Melihat saya hanya dapat sedikit, dia bertanya, "kok gur semono?". "Atos, Pak. Mpun sak ontene".

Saya pun istirahat, tidur. Bangun tidur, langsung mandi. Selesai mandi di utara rumah, saya lihat Bapak nyunggi kacang, plus nyangking ember, lengkap dengan gayungnya. Ternyata Bapak ke tegalan. Medhol kacang untuk oleh-oleh saya, kembali ke Jogja.

"Mangkeh kulo pithilane, Pak". Saya tak mau merepotkan Bapak lagi dengan kacang-kacang ini.

Sore itu, seplastik kacang mentah saya masukkan di jok motor. Menuju Jogja. Kacang aseli Gunungkidul. Mentes tur akeh isine.



Share:

Gubug bahagia: yakin! di desa tetap ada harapan

ditulis oleh: Purwoko
Gubug ini terletak di tepi jalan, di tengah hutan, sebelah selatan kampung saya. Di hutan Gelaran. Foto saya ambil pada sore hari, Ngad Pon tanggal 27 Ruwah 1951 Dal, dalam perjalanan ke kampung Ngregis; atau bertepatan dengan Minggu 13 Mei 2018 ketika saya pulang kampung, sowan Bapak.

Ini bukan gubug derita. Ini gubug kebahagiaan.

###

Kaki-kaki kokoh itu berayun beriringan. Tampak wajah tua mereka dimakan usia. Mbah Kromo, Mbah Simpen, Mbah Mangun, Mbah Jo, Mbah Par, Mbah Siyam, dan para simbah lainnya. Para simbah datang ke tengah hutan berjalan kaki. Jika berangkat siang, dan cucunya sudah pulang sekolah, diminta mengantar pakai onda. Ya. Onda, sebutan untuk sepeda motor, apapun mereknya. Di punggung para simbah putri terdapat buntelan. Isinya air minum yang diwadahi botol Akua. Serta beberapa potong pisang atau puli untuk penangkal lapar.
Mereka menuju tujuannya masing-masing. Tidak akan tertukar. Tujuan pertamanya: gubug. Di sinilah bekal mereka letakkan. Di sini pula senjata mereka disimpan. Gathul, pacul, arit dan semacamnya.
Di samping gubug ada sepetak tanah negara yang dikelola warga. Ditanami berbagai palawija: kacang, jagung, telo, dan jika ada yang sangat subur dan cukup air, ditanami padi. Oia, tak lupa suket kolonjono, untuk pakan harta karun mereka: ternak sapi atau wedhus.
Para simbah itu datang untuk menengok tanamannya, sekedar matun, atau babat suket kolonjono.
Gubug ini digunakan untuk berteguh dari panas, atau guyuran hujan. Untuk istirahat siang selepas matun, sambil membuka bekal. Atau untuk menikmati makan siang kiriman keluarga. Nasi thiwul, dan jika masih ada stok akan dicampur nasi putih; sayur lombok ijo, tempe goreng, dan sejumput gudangan
Anda tahu gudangan?. Gudangan merupakan jenis lauk. Terdiri dari berbagai sayuran yang dicampur dengan sambel kambil. Tentunya, sayuran ini tinggal memetik di samping rumah. Kambil atau kelapa tinggal menek saja dari pohon di depan rumah.

Jika tak membawa bekal, cukuplah mereka mbedol satu pohon ketela yang dirasa sudah ndaging. Kemudian mengumpulkan beberapa ranting kayu,  dibakar. Ketela yang sudah dibedol tadi, dimasukkan ditengah api. Diblusukke. Setelah ditunggu beberapa waktu, pasti matang.

Jika ada sesama, maka tak segan mereka memanggil, "ngunjuk riyin, Kang". Atau, "monggo dhahar, Yu". Dan seterusnya. Mereka rela berbagi bekal. Tak akan rugi. Justru mata berbinar jika bekal yang dibawa ludes. Itu berarti ada berkah dikemudian hari.
Bagi para simbah Kakung, biasanya istirahat itu dilengkapi dengan sebatang udud lintingan. Paduan dari mbako yang dibungkus segaret widjoseno, klembak, wur, cengkeh. Kadang ditambah sedikit menyan ududan. Bagi yang ada tabungan lebih, udud lintingan ini tergantikan rokok pabrikan. Bagi simbah putri, selembar sirih membungkus enjet, serta sebundel mbako susuran menjadi pelengkap. Sesekali membuang ludah merah hasil proses "nginang'.

Sambil istirahat, mereka membincangkan macam perkara. Dari tanaman, atau anak cucu yang sudah menginjak dewasa. Atau tentang kesendirian mereka.

###

Sepetak tanah negara dan gubug ini merupakan satu kesatuan. Dia tidak bisa dipisahkan. Padanya ada pula sepetak harapan untuk makan esok hari.
Mereka tetap semangat, meski ada pertanyaan mendasar pada diri mereka: siapa yang hendak meneruskan?

###

Ah, itu pertanyaan yang sangat mendalam. Jangan khawatir, Mbah. Akan selalu ada yang meneruskan. Bukan karena mereka menyerah pada jaman, namun karena mereka yakin di desa tetap ada harapan.


Bersambung...

Sambisari, 14 Mei 2018
selepas subuh, pagi hari


Share:

Sambatan: ritual yang tidak boleh tergerus jaman edan

Ngliparkidul -  Sambat, bisa diartikan sebagai mengadu, karena perlu bantuan. Biasanya karena kekurangan tenaga, untuk mengerjakan sesuatu. Misalnya membangun rumah, panen, atau ketika menanami sawah ladang.

Sambatan, sebagai respon orang yang sambat, merupakan prosesi membantu dengan sukarela, tanpa upah. Biasanya sekadar dihargai dengan sajian makan siang, minum dan camilan + ucapan terimakasih. Ada juga yang ditambah beberapa batang rokok.

Orang yang sambatan tidak merasa rugi membantu, karena mereka merasa suatu saat akan ada pada posisi butuh bantuan. Mereka sedang menanam jasa.

Ada beberapa istilah yang mirip dengan sambatan: kerja bhakti, atau gugur gunung. Mirip, ya, memang hanya mirip saja, karena sebenarnya berbeda. Kerja bhakti lebih condong ke gugur gunung. Mereka mengerjakan sesuatu yang sifatnya untuk kepentingan umum. Sementara sambatan, obyek yang digarap merupakan kepentingan/kebutuhan pribadi orang per orang.

Tradisi sambatan ini telah bertahun-tahun ada di kampung kami, Ngliparkidul. Pada tulisan ini, kami sertakan beberapa gambar kegiatan sambatan dalam rangka panenan jagung, ketela, panen padi, memperbaiki rumah.

###

Sebelum proses sambatan, akan ada jagongan pembuka, ditemani teh panas dan pacitan. Orang yang datang, meskipun di rumah sudah minum atau sarapan, tetap harus ikut menikmati hidangan  dahulu. Hal ini merupakan penghormatan dari si empunya rumah pada orang yang akan membantunya. Di sisi lain, ini juga wujud syukur dan penghargaan atas hidangan yang sudah disediakan si pemilik gawe.

Tak ada standard prosedur operasional yang detail pada kegiatan sambatan. Orang-orang yang ikut sambatan akan berbagi tugas meskipun tanpa komando yang detail. Mereka kreatif mencari pekerjaan masing-masing, yang bisa dilakukan. Jika ada yang perlu dirembug, mereka akan rembug bareng.


###

Berikut ini beberapa teknik sambatan (membantu) terkait panenan dan perbaikan rumah.

Panen jagung, ketela pohon dan padi
Hasil akhir dari panenan jagung yaitu: jagung terpisah dari batangnya, sehingga siap untuk dimasak atau dijual, atau disimpan sebagai lumbung cadangan makanan.

Untuk proses memanen jagung, pemangkasan jagung dilakukan dengan cara memotong batang jagung, persis di atas batang yang ada jagungnya. Bagian atas dikumpulkan sendiri untuk pakan ternak. Sementara yang masih ada jagungnya dipangkas pada bagian bawah kemudian dibongkok (diikat). Setelah diikat, akan ada yang bertugas mengangkat dan membawanya (disunggi) ke pingir jalan besar. Dari jalan tersebut, nanti akan dilangsir oleh kendaraan kol (kendaraan angkut terbuka), dibawa pulang.

Sampai di rumah, jagung yang masih nempel di batang harus dipisahkan (pemisahan ini juga bisa dilakukan langsung ketika masih di tegalan). Jika diperlukan, jagung dikupas, dipotekki, lalu dijemur. Jika akan disimpan, maka biasanya dicantelke di reng atau usuk rumah.

###

Bagaimana dengan memanen padi?

Hasil akhir panen padi adalah terpisahnya padi dari batangnya, untuk kemudian disimpan atau dijual.
Cara memanen padi, berbeda dengan memanen jagung. Untuk memanen padi yang batangnya tinggi, biasanya dipotong batang yang ada padinya dahulu menggunakan ani-ani. Kemudian sisa batangnya dibabat tersendiri. Untuk padi yang berbatang pendek, biasanya langsung dibabat di bagian pok (pangkal bawah), kemudian diikat (dibongkok). Sesampainya di rumah, padi tersebut dirontokkan dengan alat maupun secara manual.

Panenan padi agak unik, karena biasanya akan ditemani dengan belalang yang beterbangan di seputar tanaman padi. Ada walang canthung, walang sangit, lembing dan lainnya. Sembari memanen padi, juga sambil menangkap hewan-hewan tadi, untuk dimasak sebagai lauk.

###




Panenan berikutnya yaitu ketela pohon. Perlu tenaga ekstra untuk ikut andil dalam panen ketela, atau istilah jawanya sering disebut "mbedol telo". Mbedol berarti mencabut, mencabut ketela dari tanah. Ketika tanah kering dan keras, maka pencabutan ketelah akan sangat sulit, sehingga perlu tenaga ekstra. Jika tidak kuat, biasanya akan dilakukan berdua, atau disebut dengan koron. Kecuali pada jenis tanah tertentu, yang meski keras namun ternyata gembur.

Jika kesulitan dicabut, akan digali dahulu sekitarnya menggunakan pacul atau gancu. Terkadang, jika terpaksa diguyur air lebih dahulu.

Sebelum dicabut, daun ketela diambil dahulu, disatukan dan diikat terpisah. Daun ini digunakan sebagai pakan ternak. Sementara ketela hasil panen, akan dipisahkan dari batangnya, kemudian dimasukkan bagor, atau langsung diangkut  di atas mobil bak terbuka menuju rumah si pemilik.

###

Membangun/memperbaiki rumah
Jenis sambatan lainnya yaitu membangun atau perbaikan rumah. Biasanya si tuan rumah akan jadi koordinator, meskipun tidak secara tertulis. Segala yang terkait akan dikonsultasikan pada si empunya rumah. Ukuran usuk, reng, dan lainnya. Hal ini wajar dilakukan, karena si empunya rumah lah yang akan menggunakan rumah tersebut.



###


Di sela-sela sambatan, ada masa jeda, masa istirahat yang digunakan untuk jagongan, minum teh anget sambil menikmati bekal pacitan yang dibawa dari rumah. Untuk sambatan panenen yang lokasinya jauh dari rumah si empunya gawe, kadang, minuman dan pacitan ini disusulkan oleh si empunya rumah. Sementara untuk sambatan perbaikan rumah, tentu saja minuman dan pacitan sudah disediakan di lokasi.


Pada saat istirahat inilah, ada proses jagongan ngalor ngidul tentang berbagai hal, baik yang terkait dengan panenan, atau dinamika kehidupan pelaku sambatan.

Sambatan identik dengan jangan (sayur) lombok ijo, nasi putih + lalapan. Jika sambatan panen, maka makanan ini akan dinikmati sambil berteduh di bawah gubug, pohon kluwih, jati alas, atau pohon lainnya yang rindang.

###

Sambatan, mengajarkan pada kita semua tentang arti persaudaraan. Pemberian tenaga, tidak selalu bisa diukur dan dihargai dengan uang, namun bisa lebih luas dari itu. Balasan atas tenaga yang diberikan bisa lebih tinggi derajadnya dari uang.

Sambatan mengajarkan tentang kesederhanaan, tepo seliro, empati pada kesulitan yang dialami orang lain. Namun, sambatan juga mengajarkan tentang penghargaan pada si pemberi bantuan, apapun dan bagaimanapun bentuk bantuannya. Tidak ada sambatan profesional atau amatir. Semua pelaku sambatan memainkan perannya, sesuai kemampuannya, dan semuanya dihargai, diregani.

--------------------

Sumber gambar: grup whatsapp warga Ngliparkidul + FB Kang Maryoto

Share:

Menyambut tahun baru 2018 di Ngliparkidul: konsistensi pada kesenian tradisional

gamelan dan personil sudah siap. Sumber foto: WAG Ngliparkidul

Tahun baru 2018, Dusun Ngliparkidul kembali menghadirkan kesenian tradisional. Akhir Desember 2017, hari Sabtu siang, dimeriahkan oleh kesenian kuda lumping Turonggo Mudo. Sedangkan malam harinya pertunjukan Wayang Cakruk.  



Spanduk identitas. Sumber foto: WAG Ngliparkidul


Gotong royong, lur. Sumber foto: WAG Ngliparkidul

Siap? Lanjut. Sumber foto: WAG Ngliparkidul

Sumber foto: https://www.instagram.com/p/BdWcdTqljh3/
Dalang dalam dunia pewayangan diartikan sebagai seseorang yang mempunyai keahlian khusus memainkan boneka wayang (ndalang) -  (Janu Triawan).

Sumber foto: https://www.instagram.com/p/BdWaP9Yl1vV/
Pesindhén, atau sindhén (dari Bahasa Jawa) adalah sebutan bagi wanita yang bernyanyi mengiringi orkestra gamelan. Pesindén yang baik harus mempunyai kemampuan komunikasi yang luas dan keahlian vokal yang baik serta kemampuan untuk menyanyikan tembang - (Janu Triawan).




Video Youtube, video oleh: Mita Mulyaningsuci



Share:

Sejauh kami punya "kerja bakti", kedamaian akan selalu hadir

Ngliparkidul -- Molen itu sudah siap sejak kemarin sore, lengkap dengan pasir dan sekian sak semen. Lokasi sudah dibersihkan, jadwal sudah diumumkan. Rencana jajanan pasar sekaligus minuman juga sudah disampaikan ibu PKK. Biayanya dari mana? "Sisa rehab balai dusun, sumbangan, dan hadiah lomba karnaval Agustusan tahun 2017", demikian kata Pak Dukuh.


Hari itu Ngad Legi (17/12) diumumkan bahwa kerja bakti menyelesaikan lapangan di depan balai dusun akan dilaksanakan. “Minggu kerja bakti, lur. Persiapan untuk wayang tanggal 30”, demikian informasi itu masuk di grup obrolan kampung. Hari Minggu warga pun berdatangan, bagi yang memiliki alat tentunya membawa alat yang dibutuhkan.

Molen, demikian alat itu populer disebut, merupakan alat pencampur semen dan pasir untuk kepentingan bangunan, menjadi alat utama pada proses kerja bakti pagi itu. Pasir, semen dan air dimasukkan di dalamnya, dengan takaran tertentu. Molen pun memutar tangki yang berbentuk mirip jajan pasar molen. Mungkin, memang demikian ceritanya, karena mirip jajanan molen hingga orang kampung memberi nama alat tersebut “molen”.

Takerane siji sepuluh, Lur”, dalam bahasa Jawa, Kang Suto memberi komando. “Takarannya satu semen banding sepuluh pasir”, demikian kurang lebihnya. Tentunya dengan campuran kroco atau batu gandik yang sudah dipecah kecil-kecil. Ember berisi pasir, dan kroco pun mulai diangkat oleh warga secara bergantian masuk ke mulut molen ditambahi semen dan air secukupnya. Molen berputar, mengaduk, mencampur bahan di dalamnya agar ulet. Setelah dirasa cukup, ditampung dalam ember untuk kemudian diratakan di lapangan di depan balai dusun.

Lapangan itu memang bukan lapangan baru, namun sejak balai dusun diperbaiki, direhab, maka lapangan itu ikut terkena imbas, rusak, sehingga harus ada perbaikan. Atau harus dibuat lebih baik, agar lebih seimbang dengan bangunan balai yang sudah tampak megah itu. Selain itu, pekan depan akan digunakan untuk menggelar hiburan kesenian tradisional bagi warga kampung. Wayang Cakruk, demikian kabarnya yang akan mengisi malan tahun baru itu.

Untuk itu, warga perlu kerja bakti.

Kerja bakti ini merupakan kegiatan rutin seperti pada umumnya digelar di kampung-kampung. Cukup dengan pengumuman menggunakan horen, atau melalui para ketua RT, atau lewat obrolan malam ketika ronda, maka hajat kerja bakti akan mudah didengar oleh warga kampung. Pada hari yang ditentukan warga akan berdatangan menghadiri.

Para ibu, biasanya tanpa dikomando secara njlimet sudah tanggap. Mereka akan menyiapkan wedang dan pacitan untuk para Bapak yang ikut kerja bakti. Biasanya berwujud teh panas, serta jajanan pasar, ada pula yang dibuat sendiri semacam telo goreng, kacang goreng, legender, puli, telo godok dan semacamnya. Semuanya bisa diperoleh dari ladang di samping rumah mereka, untuk polo kependhem hanya perlu sedikit energi untuk mbedol, dan kemudian memasaknya. Itulah kontribusi para ibu dalam proses kerja bakti, walaupun ada pula ibu-ibu yang ikut kerja bakti.

Ya, kerja bakti bukan monopoli kaum bapak.

###

Kira-kira pukul 9.30, akan ada komando untuk istirahat, wedangan atau sumene. Komando biasanya disampaikan si pembuat minum, langsung kepada warga atau disampaikan pada yang dituakan, Pak Dukuh misalnya. Pembuat minum biasanya ibu-ibu, atau bisa juga bapak-bapak yang sudah sepuh dan kurang pas jika ikut kerja fisik berat. Mereka biasanya tetap ikut kerja bakti, sak kecekele. Kemudian Pak Dukuh pun akan menyampaikan informasi wedang yang sudah siap itu kepada peserta kerja bakti.

“Kendhel rumiyin, monggo sami ngunjuk”, pengumuman itu menggema, memecah obrolan warga yang kerja bakti. “Istirahat dulu, mari minum dulu”, demikian kira-kira arti ajakan itu. Warga pun kemudian menuju tempat disiapkannya minuman dan pacitan, mengambil gelas yang sudah berisi teh panas, serta tak lupa menyambar sepotong pacitan untuk teman minum. Warga yang membawa udud, langsung dibuka. Yang sepuh, biasanya bawa selpen, yaitu bungkusan plastik yang isinya tembakau, segaret (kertas pembungkus rokok), klembak, uwur, kadang ada menyan ududan. Mereka nglinting udud sendiri.Pada proses ini, kadang ada warga yang agak ngeyel ndak mau istirahat minum. Sebenarnya bukan karena tidak mau, tapi mungkin ada pekerjaan nanggung yang harus diselesaikan. Atau ada pula yang rikuh, mungkin datang terlambat sehingga merasa kurang elok jika belum banyak berbuat, sudah mau istirahat ikut minum.
Suto: "selpene dibukak, Yo"
Noyo: "gilo, mbakoku enak iki. Lagi tuku nang pasar wingi je. Titip Yu Paijem"

Tapi demikianlah, warga lain akan ngereh-ereh, merayu setengah memaksa untuk ikut istirahat. Wis, leren sik, Jo”, teriak Suto yang diamini warga lain, dan akhirnya membuat hati luluh kemudian ikut wedangan. Prosesi wedangan itu diwarnai dengan obrolan ngalor-ngidul tentang apapun. Tentang tanaman palawija, tentang hujan, tentang banjir, tentang hewan ternak, tentang pupuk, atau tentang garapan yang sedang mereka lakukan.

Setelah dirasa cukup, salah satu akan memulai lagi, dan yang lainnya akan mengikuti. Meskipun demikian, minuman biasanya tetap disiapkan bagi warga yang merasa haus ketika proses kerja bakti.

### 

Menjelang siang, pengerasan lapangan itu selesai. Campuran bahan telah rata, tinggal menunggu keras, untuk kemudian digunakan sebagai tempat beraktivitas warga.

Kerja bakti itu memberi bukti, bahwa kerukunan mereka miliki, guyub selalu mereka pupuk. Riak-riak kecil mereka telateni untuk diselesaikan dengan baik dan bijak. Karena mereka tahu, bahwa kerukunan dan kedamaian adalah lebih utama.

Kabeh iso dirampungke yen disonggo bareng-bareng. Semoga aman, damai, dan bahagia di Karang Kadempel.

Sambisari, 21 Desember 2017
Pukul 20.00

--------

Sumber gambar: foto dari grup WA Ngliparkidul
Share:

Bencana Banjir: Doa Kyai Semar dan ujian pada warga Ngliparkidul

"Oei, ayo nang kali. Golek cethul. Ojo lalu nggowo irik karo ember", teriak Peni sambil berjalan bergegas menuju arah sungai yang sedang banjir di sisi timur kampung. Sementara itu, Pithuk sibuk membawa genter sambil sesekali memukulkannya pada pepohonan. "Walang-walang....", teriak Pithuk. Anak-anak yang sedari tadi mengikuti di belakang langsung berhamburan berlari searah terbangnya belalang yang muncul dari pohon. Kaki-kaki kecil, tapi kokoh itu menerjang apa saja yang ada di depannya. Lumpur mengotori kaki, celana dan baju, karena sesekali mereka harus rela jatuh agar sukses menangkap belalang yang terbang. Di tangan, mereka menenteng seikat belalang yang sudah tertangkap

Ngliparkidul -- Hujan, merupakan teman bagi anak-anak kecil, khususnya lagi di pedesaan. Bersama-sama, ketika hujan mereka bermain di halaman, di jalanan, terkadang di sungai. Atau berlarian di sela-sela tanaman warga yang baru tumbuh di tegalan untuk mengejar belalang yang terbang, sebagai sumbangan lauk untuk keluarganya. Atau membawa ember dan irik, dan rela menerjang banjir untuk menangkap cethul, juga sebagai sumbangan lauk untuk keluarganya. Hujan merupakan sahabat, teman bagi anak-anak desa. 

Namun berbeda dengan hujan yang berlangsung beberapa hari itu. Hujan yang pada puncaknya, Selasa (28/11) membawa bencana yang dirasa paling besar sepanjang masa di Gunungkidul. Semua mengamini, bahwa hujan itu merupakan hujan terlebat dengan dampak terparah di Gunungkidul.

###

“Yen udan, mesakke wong Ngregis karo Cerbon”, demikian kata orang tua warga dusun Ngliparkidul. Ngregis dan Cerbon merupakan kampung kecil di tengah hutan, bersama kampung Ngliparkidul, ketiganya menjadi Dusun Ngliparkidul. Dua kampung itu menjadi RT sendiri yaitu RT 6/4, dan berjarak kurang lebih 1 km dari kampung Ngliparkidul. Letaknya yang berada di dekat tempuran (pertemuan dua sungai), membuatnya rawan banjir. Konon kabarnya, penduduknya, yang hanya ada beberapa rumah itu sudah ditawari pindah, namun sejarah dan kesuburan tanah agaknya membuat mereka tetap bertahan.

Tentang sejarah Ngregis dan Cerbon, semoga ada waktu lain untuk bercerita. Kali ini, saya hendak sampaikan sepenggal cerita tentang bencana yang baru saja dihadapi.

Setiap tahun penduduk Ngregis dan Cerbon sudah akrab dengan “siaga” banjir. Cerita kebanjiran dari dua kampung itu sudah menjadi cerita umum, turun temurun bagi warga Ngliparkidul. Namun banjir di Selasa (28/11) itu benar-benar yang paling besar. Bukan hanya untuk Ngregis dan Cerbon, namun untuk Gunungkidul. Daerah di dataran tinggi, yang bagi sebagian orang dianggap mustahil banjir.

“Yen Gunungkidul banjir, njuk piye Jogja?”, demikian komentar yang muncul.

Kejadian Selasa itu benar-benar membuktikan, bahwa alam dan Pembuat Alam tidak akan kekurangan cara untuk membuat sesuatu yang mustahil menjadi sangat mungkin.

#### 

“Laporan lur, ini kondisi Ngregis. Air naik sampai empyak rumah”, seorang warga yang sedang di lokasi melaporkan. “Alhamdulillah, bisa dievakuasi. Anak-anak, orang tua, dan jompo”, warga lainnya menimpali.

Foto sebuah rumah, yang hampir terendam banjir menghiasi grup komunikasi kampung. Sebuah rumah, milik Bu Warsini pada tengah hari kira-kira pukul 12.17 siang hampir terendam. Pandangan kosong si empunya rumah, seakan tidak percaya pada apa yang saat itu terjadi. Ternak sapi selamat, kecuali ayam yang tak bisa diselamatkan”, warga lain memberi informasi. Saya tidak bisa membayangkan, ketika ayam peliharaan itu hanyut terbawa banjir, bagaimana dengan harapan yang telah dipupuk warga terhadap ayam-ayam itu?  Mungkin, mereka berencana esok hari ketika datang hari pasaran, si ayam akan dibawa ke pasar, dijual untuk membeli beras, minyak, atau sepotong pakaian baru untuk anak cucunya. Atau, cadangan untuk makan besar ketika anak cucu mereka pulang. “Untung sapi-sapi bisa diselamatkan”, saya membatin.

“Butuh bantuan tenda, pakaian kering, makanan cepat saji”, laporan kembali masuk. “Wanita, anak-anak dan jompo aman, tidur di rumah penduduk terdekat, sementara bapak-bapak tidur di tenda sambil berjaga”, laporan lain menyusul seakan ingin memberitahukan bahwa suasana sudah agak terkondisikan. Di tengah hujan yang belum reda sepenuhnya, malam hari, ditambah listrik yang padam, tanpa pakaian kering, tentunya menghadirkan suasana yang mencekam. Aparat desa/dusun, berusaha mengondisikan, namun saya yakin di lapangan tidak sesederhana itu.

Menjelang petang, informasi meluapnya air di jembatan kali Oyo menjadikan tambahan horor tersendiri. Jembatan yang panjang, dan jarak dengan dasar sungai cukup dalam, namun bisa juga meluap, hingga kendaraan tidak bisa melintas. Kabarnya di sebelah barat kota Wonosari, jembatan Bunder juga meluap. Wonosari menjadi kota terisolir.

###

Beruntungnya kami telah memiliki Dukuh baru, yang dilantik pertengahan tahun lalu. Belum genap dua tahun, setelah sebelumnya kosong karena Pak Dukuh sebelumnya memasuki masa pensiun. Usia Pak Dukuh kami belum genap 40 tahun, yang tentunya masih terhitung muda, dan bebas dalam bergerak. “Ah, tentunya ini sebuah keberuntungan”, saya berfikir menyimpulkan.

Saya membayangkan Pak Dukuh dan warga Kampung Ngliparkidul sedemikian sibuk dan paniknya. Ya, Pak Dukuh Gito dihadapkan pada situasi yang saya yakin belum atau tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Jika sudah diperkirakan, ya hanya sebatas banjir sebagaimana biasanya.

Percakapan di grup Whatsapp kampung Ngliparkidul itu semakin ramai. Laporan A1 dari warga kampung berwujud kalimat ataupun gambar muncul silih berganti. Komentar, doa mengikutinya. Warga perantauan Ngliparkidul yang dikenal kuat dalam persaudaraan juga memberikan tanggapan, bahkan ada yang sudah berfikir apa yang bisa dilakukan pasca bencana itu.

“Perantauan iso mbantu opo, Lur?”, tanya si Suto. “Apa yang dibutuhkan pasca bencana, Lur”, Noyo menimpali.

Di dusun kami, ada beberapa warga yang mengabdi sebagai perangkat pemerintahan. Tentunya, pengalaman mereka menjadi nilai tersendiri dalam penanganan hal-hal terkait kemanusiaan dan kegotong-royongan dalam bencana ini. “Makanan siap saji, selimut, tenda, pakaian kering….”, kata Kang Dhadap, warga yang juga pegawai di kantor desa. Percakapan di grup jejaring sosial itu berlangsung sampai malam hari. Saya tidak tahu bagaimana warga melewatkan malam itu. 

Info terakhir jalan menuju Ngliparkidul dari Jogja tidak bisa dilewati, baik dari Sambipitu, maupun dari Wonosari. Jembatan Bunder dan Kali Oyo yang dalam dan luas itu tidak bisa dilewati.



Hingga Rabu pagi menjelang.


### 

melakukan pendataan
Rabu pagi (29/11) jalan menuju Wonosari sebagai ibukota kabupaten,  mulai bisa digunakan, meskipun lumpur di titik masuk kota masih mengganggu. Lumpur ini merupakan hasil dari banjir yang di berbagai jembatan sempat naik dan memutus jalur menuju Wonosari. Karena banyak yang terdampak banjir, Rabu itu sekolah-sekolah diliburkan.

Sejak Rabu, warga mulai bergerak membereskan sisa-sisa pasca banjir. Pak Dukuh Gito juga mulai identifikasi riil terkait dampak bencana tersebut. Rumah yang hanyut, terendam, rusak dan lainnya. Banjir yang terjadi pada Selasa (28/11) itu  mengakibatkan 4 rumah rusak parah dan 1  terbawa arus.

Hasil identifikasi tersebut kemudian menjadi dasar penanganan berikutnya. Tentu saja penanganan pertama merupakan penangan swadaya masyarakat. Warga berempati pada pemerintah, maklum, bahwa dengan begitu luasnya dampak banjir, pastinya pemerintah punya prioritas yang harus dilaksanakan. Maka, sehari kemudian, Kamis (30/11) Pak Dukuh mengumumkan kegiatan kerjabhakti bagi warga dusun.

“Poro wargo masyarakat ing dusun Ngliparkidul, wonten ing dinten Kemis, tanggal tigang ndoso November 2017 dipun suwun sak iyek sak ekoproyo, nindaki kerjabhakti wonten ing dusun Ngregis lan Cerbon. Wonten ing dalemipun sedherek-sedherek kulo panjenengan sami ingkang saweg pinaringan pacoban saking Gusti Allah. Kulo suwun ngasto gaman lan sangu awujud unjukkan piyambak-piyambak’, demikian kurang lebihnya.

Kalimat, yang pasti berat diucapkan Pak Dukuh muda itu di awal-awal masa bhaktinya. Tapi harus disampaikannya, sebagai wujud pengabdiannya sebagai yang dituakan di dusun.

Cancut taliwondho, bareng gotong royong
Kamis pagi, disaat orang kantoran di luar Gunungkidul mandi, berdandan rapi hendak berangkat ke kantor, atau mulai mengais rejeki, maka tidak untuk warga Ngliparkidul. Mereka mengangkat cangkul, sekop, sampil mengenakan seragam kebesaran mereka berupa kaos yang kadang sudah agak lusuh yang selama ini biasa digunakan untuk ke sawah. Tidak lupa, selembar kain untuk menyeka keringat, caping berbentuk kerucut, atau sekedar topi kain yang mungkin sudah sobek untuk sekedar menahan panas. Botol minuman yang bagian dalamnya agak coklat tanda sisa air teh tidak lupa di bawa, tentu saja sekaligus isinya.

Bersama-sama, pagi itu mereka ke Ngregis dan Cerbon. Harus hari itu!, tidak bisa ditunda meskipun hari berikutnya tanggal merah, hari libur. Bagi mereka, hari Kamis itu meskipun pada kalender tercetak hitam, mereka harus meliburkan diri, menyempatkan waktu untuk membantu saudaranya di Ngregis dan Cerbon. Ini tidak bisa digugat, tak bisa ditawar lagi.

### 

semua bekerja sama
Sekop mulai digerakkan, warga yang berjejer mulai bekerja memindahkan kayu atau apapun yang perlu disingkirkan. Rumah yang diterjang banjir itu, berangsur mulai rapi. Masih tampak pada tembok-tembok ada bekas air yang sempat merendamnya.

Mata penduduk Ngregis dan Cerbon berbinar, senang karena meski berjarak sekilo lebih, ternyata saudara mereka di kampung seberang masih mau membantu. Sekaligus berbinar karena menahan haru, sekaligus sisa-sisa rasa sedih.

Guyonan, obrolan khas wong ndeso mewarnai kegiatan kerjabhakti itu. “Sabar lur, ana pakune…”, seloroh warga ketika mau mengangkat kayu yang terkadang masih tertancap paku. Obrolan itu menjadi hiburan sampai berakhirnya kerjabhakti. E, yo mugo-mugi diparingi sabar, Yu…. seloroh Mbok  Waru memecah suara sekop yang beradu.

### 

Bhakti Sosial komunitas (FB Dwi Bendhol)
Hari berganti, siang-malam-siang datang lagi. Bantuan mulai berdatangan. Berbagai komunitas memberikan bantuan, institusi, lembaga, dusun dan desa, paguyuban dan lainnya. Kampung Ngliparkidul sendiri, setiap RT dikoordinir untuk membantu ala-kadarnya, rata-rata berwujud uang, meski ada pula yang berwujud pakaian dan semacamnya.

“Perantauan Jakarta meluncur… semoga ala-kadarnya ini dapat membantu sedherek di Ngregis dan Cerbon”, laporan perantau di grup whatsapp. Gambar sebuah mobil, yang sedang diisi bantuan tampak dikirim ke grup. “Kami nyusul, Pak Dukuh. Ini sedang koordinasi”, demikian tulis perantau lainnya, sebut saja Bendhol.

Bendhol merupakan salah satu perantau yang punya segudang kegiatan kemanusiaan. Cukup sering postingan di akun FB-nya dipenuhi dengan gambar orang terlantar yang dikunjungi, sekaligus berbagi bantuan. Dan, pada bencana kali ini, dia datang, pulang kampung membawa bantuan yang dia kumpulkan dari komunitasnya.

### 

“Semoga aman, damai, dan rukun, di Karang Kadempel ini”, demikian Kyai Semar berkata. Kalimat yang diucapkan Kyai Semar tersebut lumantar mulut Ki Dalang, pada pertunjukan wayang kulit beberapa waktu lalu di Balai dusun Nglipar Kidul. Pada pertunjukan tersebut, datang pula saudara dari Ngregis dan Cerbon ikut menonton. Kini, seeolah-olah ujian dari doa Kyai Semar ini ditunjukkan pada kejadian bencana ini. Akankah dengan bencana banjir ini, Karang Kadempel tetap aman, damai dan rukun?


Baca juga: Nanggap seni wayang kulit: wujud penghargaan pada seni adiluhung warisan leluhur 

Kembali, penduduk 3 kampung dalam satu dusun ini disatukan lagi. Bukan pada pertunjukan wayang, namun pada kejadian yang berbeda, rasa solidaritas karena bencana banjir. Dan doa Kyai Semar tersebut menyatukan dua kejadian tersebut, menyatukan 3 kampung dalam kerukunan, kedamaian dan kebahagiaan.
Sekali lagi, semoga aman, damai, rukun dan bahagia di Karang Kadempel
#### 
Peni dan Pithuk kembali pulang. Membawa serenteng belalang, dan setengah ember cethul serta jenis ikan lain yang terbawa banjir. Atas nama solidaritas, mereka berbagi hasil buruan. Sore itu, mereka membawa lauk untuk bekal makan malam. Lauk dari kemurahan alam, dari aliran banjir yang bersahabat dan menjadi sehabat mereka, tentunya juga bagi semua warga Ngliparkidul. "Mak, iki cethul karo walange", Peni menyodorkan rentengan belalang itu pada ibunya. Wajan dan minyak goreng telah siap di atas keren penggorengan. Malam itu bersama-sama, mereka menikmati sepinya malam ditemani belalang dan cethul goreng hasil perburuan. 




Sambisari, 19 Desember 2017
Pukul 21.14 malam

--------
Sumber gambar: foto dari grup WA Ngliparkidul



Share:

Pak Hardiyo: keterbatasan fisik, bukan halangan untuk kreatif dan maju

foto: Hardiyo
Pak Hardiyo (51), atau Pak Har sapaan akrabnya, baru saja pulang dari Jakarta, tepatnya menghadiri acara di gedung SCBD Jakarta. Pada tanggal 30 November lalu, beliau hadir di gedung tersebut bersama Puji Lestari, istrinya, untuk presentasi dalam acara "Empowered Comptetition: kompetisi pemberdayaan ekonomi pengusaha mikro penyandang disabilitas".

Pak Har merupakan salah satu warga Ngliparkidul, yang aktif di organisasi pemberdayaan penyandang disabilitas. Beliau Ketua Forum Komunikasi Dusabilitas Gunungkidul, Ketua Pusat pemberdayaan disabilitas mitra sejahtera Nglipar, Pengurus sub komite disabilitas Gunungkidul serta penasehat organisasi serupa di beberapa desa.

Pada acara tanggal 30 November itu, Pak Hardiyo datang bersama peserta lain dari 14 propinsi. Dengan semangat kuat, meski atasnama pribadi, optimisme tetap ditunjukkannya. Duduk di kursi roda, Pak Har begitu semangat menjawab pertanyaan dari dewan juri. Hadiah yang diperoleh, harapannya bisa digunakan untuk pembiayaan projek proposalnya, tentang pembuatan pakan ternak sapi tanpa hijauan.

Harapan lainnya, keikutsertaaannya diharapkan dapat memotivasi anak muda lainnya untuk aktif dan kreatif. Sejak menerima informasi kompetisi, Pak Har langsung melakukan identifikasi kebutuhan kelompok, mengumpulkan bahan dan kemudian membuat tulisan. Beliau berjuang mendapatkan kursi presentasi ke Jakarta dari total 70-an peserta kompetisi.

Perjuangan itu tidak sia-sia, juara 3 berhasil beliau peroleh. Tentunya selain predikat juara, juga memperoleh pengalaman sangat berharga, lebih dari sekedar nominal uang.

Berikut rekaman singkat proses tanya jawab beliau ketika presentasi.



###

Pak Hardiyo merupakan satu diantara sekian penyandang disabilitas. Beliau mengisahkan pengalaman hidupnya pada saya (6/1/2018) ketika saya datang ke markas organisasi Mitra Sejahtera. Markaz ini berada di dusun Ngliparkidul, pada gedung bekas SMU yang sudah tidak lagi digunakan.

Pak Hardiyo, sehari-hari menggunakan kursi roda. Kedua kakinya tak dapat lagi berfungsi secara normal. Kondisi kesehatan kakinya mulai berkurang bermula sekitar tahun 1992, dan benar-benar tidak bisa berjalan pada 1994. Tentunya keadaan tersebut, pada awalnya membuat beliau tertekan. Orang tua yang begitu mencintainya, mengusahakan pengobatan ke berbagai tempat. Namun hasilnya tidak optimal.

Pak Hardiyo mulai menerima keadaan pada fisiknya tersebut sekitar tahun 2006. "Wis ora sah adol dele dinggo ngobatke aku, sajake wes ngene iki lelakonku", demikian dia sampaikan pada orang tuanya. Kesehariannya diisi dengan kegiatan ringan khas orang desa, mulai dari potek jagung, pithil kacang, masak, nyuci, atau kegiatan lain yang bisa dilakukan dengan keterbatasan fisinya tersebut.

Orang tuanya, membantu dengan membuatkan kursi atau meja yang dilengkapi dengan roda pada kaki-kakinya. Waktu itu belum ada kursi roda. Dengan demikian, Pak Hardiyo bisa bergerak dengan leluasa. Dukungan orangtuanya sungguh luar biasa.

###

Tahun 2006, sejak keikhlasan dirinya tumbuh, sampai 2010-an dihabiskan di rumah. Perjuangan orang-tuanya, untuk bisa membuat Pak Hardiyo mandiri belum pupus. Hingga akhirnya mempertemukan dengan sebuah balai milik departemen sosial di Bantul. Di Balai ini, Pak Hardiyo mengikuti pelatihan-pelatihan keterampilan. Inilah masa awal Pak Hardiyo "keluar" dan mengenal dunia luar.

Perasaan minder, khawatir menyelimuti masa-masa awal ini, "Jangan-jangan nanti saya dicibir, disepelekke", demikian ceritanya. Pak Hardiyo memilih belajar elektro, namun karena fisiknya akan kesulitan jika ngangkat barang elektronik, kemudian belajar membuat pola dan menjahit.

Kegigihannya, mengantarkan dia berusaha pula membangun perpustakaan kecil di rumahnya. Kemudian kepercayaan dirinya yang mulai tumbuh, mengantarkan dia memperjuangkan penyandang disabilitas, khususnya di desanya, hingga akhirnya aktif dan menjadi pengurus beberapa organisasi.

"Saya ndak ingin teman-teman disabilitas mengalami seperti yang saya alami dulu. Maka jika ada yang membutuhkan kursi roda, jika ada maka langsung saya antar", demikian dia melanjutkan ceritanya setelah beberapa waktu lalu mengantar kursi roda di kawasan Gunung Kotak. Gunung Kotak berada di pegunungan perbatasan Gunungkidul dan Wonogiri. Medannya yang sulit dijangkau bukan halangan untuk beliau.

###

Aktifitas di organisasi mengantarkan beliau belajar dunia disabilitas ke Australia,  tepatnya di Sidney selama dua minggu bersama 20 orang lainnya  dari Indonesia. Di Sidney berbagai pengetahuan tentang disabilitas beliau peroleh. "Di Sidney saya berani keluar rumah sendiri, Mas. Jalan, angkutan, kantor, gedung mendukung disabilitas", demikian potongan ceritanya ketika di Sidney.

Bagi beliau, di Gunungkidul pun telah ada perubahan, meski jika banding Sidney memang masih jauh. Kondisi alam, anggaran dan lainnya memang berpengaruh. Apalagi kondisi sosial masyarakat. Gedung perkantoran di Pemerintah Daerah telah ada perubahan, baik letak kantor maupun tersedianya semacam lift (mirip lift) bagi penyandang disabilitas. Tentunya hal tersebut harus selalu ditingkatkan. Tidak kalah penting yaitu kondisi atau lingkungan masyarakat yang harus tanggap bahwa penyandang disabilitas juga berhak memperoleh perhatian yang sama dengan yang normal, serta berhak meningkatkan kemampuan dirinya sebagai manusia.

###

Kini, di gedung bekas SMU itu hari-harinya diabdikan untuk kemanusiaan, untuk rekan-rekan sesama  penyandang disabilitas melalui Mitra Sejahtera. Sesuai namanya, Mitra Sejahtera merupakan teman, mitra untuk bersama-sama meraih sejahtera.

Pak Hardiyo memberi contoh pada generasi muda, bahwa keterbatasan bukan halangan. Serta mengajarkan bahwa sesuatu yang dianggap terbatas bagi orang lain, tidak harus selamanya disesali. Cukupkah disadari, kemudian bangkit, menunjukkan bahwa Tuhan memberi "hadiah" pasti karena Dia mengganggap si penerima pantas dan istimewa. Mencari apa yang istimewa, adalah tugas berikutnya, yang harus didukung oleh dirinya sendiri, keluarga dan lingkungannya.

Jika empati, dan saling pengertian tersebut terbentuk, maka kehidupan manusia, apapun keadaannya akan ditaburi dengan kerukunan dan kedamaian.


Diedit ulang, 7 Januari 2018
Sambisari, Kalasan, Sleman, Yogyakarta







Share:

Trending

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Recent Posts